Rabu, 30 Januari 2013

Pesan Untuk Sang Penerima Pesan

Pijakan 
tepat kurang lebih 1 tahun yang lalu, saya berpijak.
Berpijak pada dasarnya.
Berpegang pada ucapan.

Ucapan yang menurut saya sangat rumit, banyak konsekuensi menjemput setelah ucapan tersebut.
Dan Pijakan tersebut.
Riak air didepannya, bisa jadi menjadi saksi bisu.

Waktu yang berlalu, mempertemukan saya kembali dengan pijakan tersebut.
Ya, lengkap dengan riak air di depannya.
Konsekuensi yang belum diselesaikan secara tuntas dari ucapan lalu tersebut, sampai sekarang masih membayangi.

Sekedar mempertanggungjawabkan di depan subjek lain mungkin terasa lebih mudah.
Tapi pijakan ini terasa menohok, mengingatkan saya bahwa pertanggungjawaban itu tidak hanya dengan sesama subjek lain saja.

Ya, konsekuensi yang belum tuntas dari ucapan saya dulu
Pasti akan meminta pertanggungjawaban.

Konsekuensi akan ketiadaan dari Konsekuensi.
Saat ini ??
Mencoba setidaknya sedikit melengkapi ketidaktuntasan konsekuensi ucapan yang lalu.
Mencoba untuk bertanggung jawab atas pertanggungjawaban yang nantinya akan diminta.
Berharap "Saya yang lain" bisa mengalahkan "Saya yang lainnya"
:)

Selasa, 22 Januari 2013

Kenyamanan

Mau nulis lagi

Ehem
Fase fase sekarang ini yaaa sedang mengalami ga enak-ga nyaman-ga biasa- se engga engga nya engga. #nahlho.

Bukan, bukan profase, metafase, apalagi anafase.
Ini Fase yang lebih rumit dijelasin prosesnya ketimbang 3 fase diatas.
Akhir akhir ini terkadang, apapun yang terlintas, hendak diucapkan, terlintas efek dari pengucapan, dan akhirnya enggan menyampaikan apa yang terlintas.

Mungkin saya sudah capek, atau malah menyerah dengan serentetan cerita cihuy yang menimpa saya sepanjang desember-januari ini.
Sedikit tersadar aja, bahwa apapun yang kita rasakan saat ini, itu bisa jadi momen, pelajaran, pelatihan atau apapun lah yang nantinya mungkin di masa depan kita bakal terseyum senang atau malah kecut ketika inget semuanya.

Kenapa ketika kita mendengar lelucon hal hal lucu berkali kali, kegembiraan kita berkurang satu strip ketika kita mendengar hal itu lagi dan lagi.
Nah kalo ada momen yang menyakitkan aja, mau diulang berkali kali, kadar kesedihannya ga berkurang barang seperempat strip-pun.

Padahal sedih atau senang, seberapa lama mereka singgah, itu tergantung dari diri kita. Ketika kita secara "tidak sadar" ternyata nyaman akan kondisi diatas.

"Senang atau Sedih bisa bergantian mengisi kalbu. Jikalau belum berganti, berarti kalbu tersebut sedang menikmatinya"

Dan akhirnya hanya bisa berharap dan berusaha agar ke"tidak sadar"an itu lambat laun bisa saya kontrol seperti seharusnya. Kalau kata temen saya teruslah mencari jalan sampai bertemu kepastian.

Ya, saya yakin pasti, akan adanya kepastian. keraguan itu lebih identik dengan keengganan berkonsekuensi.
Apapun itu, termasuk kepastian untuk dapat mengontrol ke"tidak sadar"an, termasuk ketika menemukan faktanya.
Fakta yaitu sekarang saya sedang menikmati ke "ga enak-ga nyaman-ga biasa- se engga engga nya engga"

Hahaha semoga bisa meninggalkan kenyamanan dalam keabsurdan dan menemukan kenyamanan dalam kesenangan lagi, pasti bisa.
sepasti datangnya kepastian !! :D

Rabu, 02 Januari 2013

Tanya

Tanya dan Jawab
Sebab dan Akibat

Saling, seperti layaknya benang merah kusut yang akhirnya terurai.
Saling, seperti halnya candaan ringan yang berujung pada sakit hati.
Saling, seperti halnya kata kata yang berakhir pada kesalahpahaman.

Tanyaku,
sampai kapan waktu bisa menguraikan kesalahpahaman yang ada ??
seberapa kuat kecurigaan bisa menutupi kebenaran yang ada ??
apa yang bisa membuat kelelahan dan kekecewaan bisa mengalahkan rasa peduli dan loyalitas ??
kenapa saya belum bisa mengalahkan "saya yang lain" ??
sampai kapan ada jawaban atas tanyaku ??

Jawaban dan Solusi.
hendaknya kalian cepat bertengger,
mengisi ruang ruang tanya di banyak sudut fikiranku.