Jumat, 29 Maret 2013

Kampus tanpa rokok, mungkin (kah ?)


Kampus, sebagai media akademik lanjutan umum  tentunya diharapkan dapat menjadi media pembentuk mahasiswa. Karena di dalam kampus, mahasiswa dididik dan diajar untuk menjadi manusia kompatibel penerus generasi bangsa.

Ketika berbicara mengenai kampus, kampus juga merupakan tempat umum, media sosial dimana banyak interaksi sosial bertemu dan tidak mengenal waktu ataupun jarak. Banyaknya interaksi disini menuntut agar semua civitas akademika di kampus dapat saling berinteraksi bersosialisasi secara santun dan menghargai sesama.

Mengenai kawasan bebas rokok yang dicanangkan oleh pemerintah, setidaknya kampus merupakan objek media ideal untuk menerapkan kawasan bebas rokok ini, karena seperti sudah disinggung diatas mengenai aktivitas dan peran kampus yang nantinya dapat mempengaruhi generasi penerus untuk setidaknya tetap menaruh perhatian lebih di sektor ini.

Mengenai peraturannya sendiri, pemerintah telah mengeluarkan beberapa aturan tentang kawasan bebas rokok, diantaranya UU no. 36 tahun 2009 bagian ke 17 pasal 114 dan 115 yang masing masing berbunyi sebagai berikut :

pasal 14 : Setiap orang yang memproduksi atau memasukkan rokok ke

wilayah Indonesia wajib mencantumkan peringatan kesehatan.

pasal 15 : (1) Kawasan tanpa rokok antara lain:

a. fasilitas pelayanan kesehatan;

b. tempat proses belajar mengajar;

c. tempat anak bermain;

d. tempat ibadah;

e. angkutan umum;

f. tempat kerja; dan

g. tempat umum dan tempat lain yang ditetapkan.



(2) Pemerintah daerah wajib menetapkan kawasan tanpa

rokok di wilayahnya.



Sementara untuk memperjelas undang undang itu sendiri, pemerintah telah mengeluarkan pp no.109 tahun 2012, untuk diperhatikan seksama hal yang disoroti disini adalah pasal 11 yang kurang lebih berbunyi :

"Kawasan Tanpa Rokok adalah ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan, dan/atau mempromosikan Produk Tembakau''


Dijelaskan lebih lanjut tentang kawasan tanpa rokok pada pasal 49 sampai 52 yang intinya menjelaskan tentang kawasan tanpa rokok, dan kewajiban pemerintah daerah untuk menerapkannya serta membuat kawasan khusus bagi para perokok.


Mahasiswa sebagai agent of change dan kampus sebagai media pembentuknya, menjadi ideal untuk dijadikan objek media penerapan kawasan tanpa rokok, karena di kampus inilah terdapat banyak interaksi sosial dan mahasiswa sebagai penggerak utama didalamnya harusnya sadar akan penting dan manfaat baik fisik maupun psikologis dari kawasan tanpa rokok itu sendiri.


Di lingkungan UNDIP sendiri, beberapa fakultas berbasis kesehatan seperti FK maupun FKM telah gencar mempromosikan kampus sebagai media kawasan tanpa rokok. Hal ini baik dan patut diapresiasi. Kedua kampus tersebut telah menerapkan para civitas akademiknya untuk setidaknya tidak merokok di area kampus dan menyediakan tempat tersendiri bagi perokok. Dan lebih bijaknya lagi para perokok dirangkul untuk kemudian pro dalam gerakan ini dengan cara menyediakan ruang ruang konseling untuk menyadarkan dan menghilangkan ketergantungan mereka terhadap zat adiktif tersebut.


FT sebagai fakultas terbesar di fakultas teknik, dan notabene mempunyai presentasi perokok yang tinggi baik pada civitas akademiknya, diharapkan mau dan mampu untuk setidaknya mulai sadar akan pentingnya menjadikan kampus sebagai media kawasan tanpa rokok. Berapa banyak dapat disaksikan bahwa pada kenyataannya rokok menjadi barang biasa di kebanyakan kampus di FT, merokok di toilet, kantin, bahkan lebih parahnya lagi memang ada oknum oknum civitas akademika tertentu yang merokok disaat sedang mengasistensikan tugas mahasiswanya !


Tentunya hal hal tersebut tidak mencerminkan kampus sebagai media pemintar bangsa baik secara fisik maupun moral, sekali lagi disini ditekankan, bukannya mau mengucilkan dan menegatifkan para perokok di kampus, karena disini secara bertahap dan perlahan, tetap perlu diadakan penyediaan kawasan kecil untuk merokok serta tempat penyuluhan dan konseling untuk para perokok.


Untuk merealisasikan hal tersebut memang sulit, tetapi jika tidak dimulai dari sekarang dan bukan kita yang memulainya, siapa lagi ??


Menjadikan kawasan kampus tanpa rokok, UNDIP tanpa rokok rasanya pantas untuk diperjuangkan :)


ditulis ketika iseng mau nulis


Kamis, 14 Maret 2013

(?)

sedih dan senang
seperti dua padanan kata yang jauh makna
terkadang terbias, dan tersamarkan oleh sekedar refleksi ekspresi
senyum dan murung

sedih senang
pernahkah tersadar ??
dua yang saling mengisi kalbu secara bergantian
pernahkah tersadar ??
terkadang transisi yang dirasa seperti tak terasa
mengalir begitu saja.
terkadang di satu waktu "yang satu" tak mau digantikan oleh "yang lain" 
pernahkah terfikir ??
dua yang tak lagi mengisi bergantian
melainkan terasa bersamaan
refleksi ekspresi yang tercermin ber riak layaknya air
pernahkah terdeskripsikan ??
layaknya aroma hujan yang mengenai tanah
tak pernah mampu dijabarkan
waktu dan kesempatan mungkin bisa kembali memecahkan
agar dua yang bersamaan menjadi dua yang bergantian.
sedih dan senang terasa dekat dan bersatu
ya, semuanya terlihat samar
layaknya eksistensi butiran garam dalam samudera
pernahkah terasakan ??






difikirkan ketika AC Milan kalah 4-0 dari barcelona, di tulis ketika arsenal unggul 1-0 atas bayern munchen.


 



 

Selasa, 05 Maret 2013

Rekam Jejak

22 Februari 2013
pukul 00.00
atau resminya pukul 19.00

21, bukan ini bukan tempat buat nonton bioskop.
itu rekam jejakku selama ini.
saat yang pas banget buat merenung.
tentang apa yang sudah dan belum dilakukan.
tentang usaha untuk memperbaiki segala sesuatunya.

rekam jejak ini bagai rintik hujan, banyak berurutan bersamaan.
pengalaman apa yang pernah didapat ??
akankah pengalaman itu jadi penolong ??
atau hanya pernah singgah aja ??

yaa semoga saya bisa memenuhi ekspektasi orang lain dan diri saya sendiri, tentunya dengan cara dan ke khas-an pribadi.

Selasa, 12 Februari 2013

1, 2, atau....

Satu, belum tentu butuh satu yang lain untuk membuatnya menjadi dua.

Terkadang, kita terlalu takut banget buat sendiri.
Independen, ngelakuin semuanya sendiri.
Manusia memang makhluk sosial, tapi ada batas batas tertentu yang tetap mengutamakan individualitas.
Karena ga selamanya kita bareng bareng.

Terkadang bareng bareng pun sebenernya hanya artian fisik, karena hakikat aslinya yaa tetep aja sendiri sendiri.
Senang sama senang, susah sama susah. tapi seneng yang kita rasain dengan seneng yang lainnya rasain belum tentu sama lho. gitu juga dengan susah.

Perlu pengalaman, daya pikir dan rasa yang sama buat ngerasain hal hal baik seneng ataupun susah dengan taraf yang sama.
Tapi saya rasa, manusia itu unik. setiap satu yang terbentuk yaa cuma satu, ga ada dua nya.
pengalaman bisa aja disamain, tapi daya pikir dan rasa yang ngebedain manusia satu dan lainnya.

Jadi, janganlah ngerasa sok tau akan orang lain baik susah atau senangnya.
empati hanya empati, karena pengalaman yang sama belum tentu dirasain dan dipikirin juga disikapin dengan sama.

Biarlah manusia yang satu dan yang lainnya ngumpulin pengalamannya masing masing, sendiri, independen.
Tukar dengan yang lain.
Sebenernya yang diperluin simpel kok, pengertian, saling ngerti. Bukan saling sok paham atau mahamin tapi kenyataannya memaksa.
memakasa satu pengalaman disikapi dengan rasa yang sama.

Karena semuanya sendiri, independen, unik, ga ada duanya.
Hanya catatan yang ditujukan untuk diri sendiri, sekian dan terimakasih :)

Rabu, 30 Januari 2013

Pesan Untuk Sang Penerima Pesan

Pijakan 
tepat kurang lebih 1 tahun yang lalu, saya berpijak.
Berpijak pada dasarnya.
Berpegang pada ucapan.

Ucapan yang menurut saya sangat rumit, banyak konsekuensi menjemput setelah ucapan tersebut.
Dan Pijakan tersebut.
Riak air didepannya, bisa jadi menjadi saksi bisu.

Waktu yang berlalu, mempertemukan saya kembali dengan pijakan tersebut.
Ya, lengkap dengan riak air di depannya.
Konsekuensi yang belum diselesaikan secara tuntas dari ucapan lalu tersebut, sampai sekarang masih membayangi.

Sekedar mempertanggungjawabkan di depan subjek lain mungkin terasa lebih mudah.
Tapi pijakan ini terasa menohok, mengingatkan saya bahwa pertanggungjawaban itu tidak hanya dengan sesama subjek lain saja.

Ya, konsekuensi yang belum tuntas dari ucapan saya dulu
Pasti akan meminta pertanggungjawaban.

Konsekuensi akan ketiadaan dari Konsekuensi.
Saat ini ??
Mencoba setidaknya sedikit melengkapi ketidaktuntasan konsekuensi ucapan yang lalu.
Mencoba untuk bertanggung jawab atas pertanggungjawaban yang nantinya akan diminta.
Berharap "Saya yang lain" bisa mengalahkan "Saya yang lainnya"
:)

Selasa, 22 Januari 2013

Kenyamanan

Mau nulis lagi

Ehem
Fase fase sekarang ini yaaa sedang mengalami ga enak-ga nyaman-ga biasa- se engga engga nya engga. #nahlho.

Bukan, bukan profase, metafase, apalagi anafase.
Ini Fase yang lebih rumit dijelasin prosesnya ketimbang 3 fase diatas.
Akhir akhir ini terkadang, apapun yang terlintas, hendak diucapkan, terlintas efek dari pengucapan, dan akhirnya enggan menyampaikan apa yang terlintas.

Mungkin saya sudah capek, atau malah menyerah dengan serentetan cerita cihuy yang menimpa saya sepanjang desember-januari ini.
Sedikit tersadar aja, bahwa apapun yang kita rasakan saat ini, itu bisa jadi momen, pelajaran, pelatihan atau apapun lah yang nantinya mungkin di masa depan kita bakal terseyum senang atau malah kecut ketika inget semuanya.

Kenapa ketika kita mendengar lelucon hal hal lucu berkali kali, kegembiraan kita berkurang satu strip ketika kita mendengar hal itu lagi dan lagi.
Nah kalo ada momen yang menyakitkan aja, mau diulang berkali kali, kadar kesedihannya ga berkurang barang seperempat strip-pun.

Padahal sedih atau senang, seberapa lama mereka singgah, itu tergantung dari diri kita. Ketika kita secara "tidak sadar" ternyata nyaman akan kondisi diatas.

"Senang atau Sedih bisa bergantian mengisi kalbu. Jikalau belum berganti, berarti kalbu tersebut sedang menikmatinya"

Dan akhirnya hanya bisa berharap dan berusaha agar ke"tidak sadar"an itu lambat laun bisa saya kontrol seperti seharusnya. Kalau kata temen saya teruslah mencari jalan sampai bertemu kepastian.

Ya, saya yakin pasti, akan adanya kepastian. keraguan itu lebih identik dengan keengganan berkonsekuensi.
Apapun itu, termasuk kepastian untuk dapat mengontrol ke"tidak sadar"an, termasuk ketika menemukan faktanya.
Fakta yaitu sekarang saya sedang menikmati ke "ga enak-ga nyaman-ga biasa- se engga engga nya engga"

Hahaha semoga bisa meninggalkan kenyamanan dalam keabsurdan dan menemukan kenyamanan dalam kesenangan lagi, pasti bisa.
sepasti datangnya kepastian !! :D

Rabu, 02 Januari 2013

Tanya

Tanya dan Jawab
Sebab dan Akibat

Saling, seperti layaknya benang merah kusut yang akhirnya terurai.
Saling, seperti halnya candaan ringan yang berujung pada sakit hati.
Saling, seperti halnya kata kata yang berakhir pada kesalahpahaman.

Tanyaku,
sampai kapan waktu bisa menguraikan kesalahpahaman yang ada ??
seberapa kuat kecurigaan bisa menutupi kebenaran yang ada ??
apa yang bisa membuat kelelahan dan kekecewaan bisa mengalahkan rasa peduli dan loyalitas ??
kenapa saya belum bisa mengalahkan "saya yang lain" ??
sampai kapan ada jawaban atas tanyaku ??

Jawaban dan Solusi.
hendaknya kalian cepat bertengger,
mengisi ruang ruang tanya di banyak sudut fikiranku.